0

I LOVE YOU              Di malam itu seorang teman baikku yang  bernama Reza mengajakku ke tempat pacarnya yang bernama Tika, dia ingin mengenalkan seorang cewek untukku, ”mumpung masih jomblo aku ikutin aja” kataku dalam hati. Rasa penasaran mengiringi perjalananku bersama Reza, “siapa sih nama cewek itu, trus sifatnya bagaimana, dia cantik gak?” tanyaku dengan penuh penasaran, “tenang aja, aku tau ko type kamu, ntar kamu lihat aja”, jawabnya dengan santai sambil tersenyum. Ketika sampai di kosnya Tika, akupun turun dari motor, ”dek,dek,dek” bunyi jantungku yang berdebar cepat sambil jalan menuju pintu kosnya Tika, akupun mencoba untuk tetap tenang. Dengan penuh percaya diri aku masuk ke dalam kosnya Tika, pandangan pertamapun terjadi, aku melihat seorang gadis cantik di depanku, ku pandangi wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis membuat hatiku luluh. “heii” tiba-tiba Reza mengagetkanku “jangan kenapa melamun, itu cewek yang ku maksud, kenalan sana!”, ku ulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya, “hai aku Ana” “aku Satria” Saling pandangpun terjadi, sambil memegang tangannya Ana yang begitu lembut. Aku dan Ana ditinggalkan duduk berdua oleh Reza untuk bisa saling kenal lebih dekat, setelah lama berbincang-bincang aku dan Rezapun pulang, aku pulang dengan rasa bahagia, “tu cewek cantik banget za, aku jadi jatuh cinta pada pandangan pertama”, “kalo kamu suka ya kamu tembak aja, dia orangnya baik lo, pas ama yang kamu idamkan selama ini” jawab reza. Keesokan harinya aku dan Rezapun pergi lagi kekosnya Tika, dan aku bertemu lagi dengan Ana, karena sudah akrab aku jadi tidak kaku lagi dengannya, Ana yang selalu tampil ceria, penuh tawa dan selalu tersenyum membuatku semakin suka padanya, tak lama kemudian “I love you” tiba-tiba keluar dari mulutku, suasanapun menjadi hening, Ana yang tertawa lepas tiba-tiba terdiam sambil memandangku. “I love you too” kata Ana dengan penuh perasaan, “kamu mau kan jadi pacar aku” kataku dengan penuh harapan, “kamu yakin dengan ucapanmu, palingan kamu bercanda, kita kan baru kenal” “aku gak mau memendam cinta ini terlalu lama, dengan satu hari aku ingin mencintaimu selamanya” kataku dengan penuh perasaan, “aku juga suka ama kamu sat, aku mau jadi pacar kamu” Jawaban Ana membuat hatiku berbunga-bunga, seakan baru pertama kali jatuh cinta. Dengan perasaan yang amat senang aku pulang ke rumah, layaknya seorang yang jatuh cinta, aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan Ima. Keesokan harinya aku pergi lagi ke kosnya Tika dengan Reza pada sore hari, sekarang aku pergi sebagai pacarnya Ana, dengan bangganya aku masuk ke dalam dan mengajak Ana keluar, aku membawanya ke suatu tempat yang sangat indah, ke sebuah gunung dan melihat pantai di bawahnya, dengan penuh kemesraan kami duduk berdua dan Ima bersandar dibahuku sambil memeluk tubuhku, mungkin kami baru satu hari pacaran, namun karena cinta kami, kami merasa begitu dekat. Pada saat matahari tenggelam. “I love you” ku bisikkan kata pertama yang ku ucapkan ketika menembaknya, “I love you too” jawab Ana, dengan penuh kemesraan aku mencium keningnya begitu lama dengan diiringi matahari yang tenggelam, ke peluk tubuhnya dengan mesra dan dia berkata “baru pertama kali aku merasakan sebuah ciuman dan pelukan yang begitu mesra, terima kasih buat rasa sayang yang kamu berikan, aku akan selalu menyayangimu” kata Ana sambil meneteskan air mata, hatiku pun terasa sedih, ku usap air matanya, “I love you” ku ucapkan lagi kata itu padanya, “I love you too” jawabnya sambil menangis. Akhirnya ku ajak Ana untuk pulang, Reza dan Tika menyambut kami “sombong orang yang sudah jadian nih, lupa ama kita, jalan-jalan gak mau ngajak-ngajak” kata Tika dan Reza sambil tersenyum, “aku kan sudah punya pacar, ngapain ajak kalian” jawabku sambil memegan tangannya Ana, tidak lama kemudian aku pulang dengan Reza, aku menceritakan semuanya kepada Reza, “syukurlah kalau begitu, dari pertama dia memang suka juga sama kamu, makanya jaga baik-baik dia, jangan sakiti hatinya” k
I LOVE YOU

            Di malam itu seorang teman baikku yang  bernama Reza mengajakku ke tempat pacarnya yang bernama Tika, dia ingin mengenalkan seorang cewek untukku, ”mumpung masih jomblo aku ikutin aja” kataku dalam hati. Rasa penasaran mengiringi perjalananku bersama Reza, “siapa sih nama cewek itu, trus sifatnya bagaimana, dia cantik gak?” tanyaku dengan penuh penasaran, “tenang aja, aku tau ko type kamu, ntar kamu lihat aja”, jawabnya dengan santai sambil tersenyum. Ketika sampai di kosnya Tika, akupun turun dari motor, ”dek,dek,dek” bunyi jantungku yang berdebar cepat sambil jalan menuju pintu kosnya Tika, akupun mencoba untuk tetap tenang. Dengan penuh percaya diri aku masuk ke dalam kosnya Tika, pandangan pertamapun terjadi, aku melihat seorang gadis cantik di depanku, ku pandangi wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis membuat hatiku luluh. “heii” tiba-tiba Reza mengagetkanku “jangan kenapa melamun, itu cewek yang ku maksud, kenalan sana!”, ku ulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya,
“hai aku Ana”
“aku Satria”
Saling pandangpun terjadi, sambil memegang tangannya Ana yang begitu lembut. Aku dan Ana ditinggalkan duduk berdua oleh Reza untuk bisa saling kenal lebih dekat, setelah lama berbincang-bincang aku dan Rezapun pulang, aku pulang dengan rasa bahagia, “tu cewek cantik banget za, aku jadi jatuh cinta pada pandangan pertama”, “kalo kamu suka ya kamu tembak aja, dia orangnya baik lo, pas ama yang kamu idamkan selama ini” jawab reza.
Keesokan harinya aku dan Rezapun pergi lagi kekosnya Tika, dan aku bertemu lagi dengan Ana, karena sudah akrab aku jadi tidak kaku lagi dengannya, Ana yang selalu tampil ceria, penuh tawa dan selalu tersenyum membuatku semakin suka padanya, tak lama kemudian “I love you” tiba-tiba keluar dari mulutku, suasanapun menjadi hening, Ana yang tertawa lepas tiba-tiba terdiam sambil memandangku. “I love you too” kata Ana dengan penuh perasaan,
“kamu mau kan jadi pacar aku” kataku dengan penuh harapan,
“kamu yakin dengan ucapanmu, palingan kamu bercanda, kita kan baru kenal”
“aku gak mau memendam cinta ini terlalu lama, dengan satu hari aku ingin mencintaimu selamanya” kataku dengan penuh perasaan,
“aku juga suka ama kamu sat, aku mau jadi pacar kamu”
Jawaban Ana membuat hatiku berbunga-bunga, seakan baru pertama kali jatuh cinta. Dengan perasaan yang amat senang aku pulang ke rumah, layaknya seorang yang jatuh cinta, aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan Ima. Keesokan harinya aku pergi lagi ke kosnya Tika dengan Reza pada sore hari, sekarang aku pergi sebagai pacarnya Ana, dengan bangganya aku masuk ke dalam dan mengajak Ana keluar, aku membawanya ke suatu tempat yang sangat indah, ke sebuah gunung dan melihat pantai di bawahnya, dengan penuh kemesraan kami duduk berdua dan Ima bersandar dibahuku sambil memeluk tubuhku, mungkin kami baru satu hari pacaran, namun karena cinta kami, kami merasa begitu dekat. Pada saat matahari tenggelam. “I love you” ku bisikkan kata pertama yang ku ucapkan ketika menembaknya, “I love you too” jawab Ana, dengan penuh kemesraan aku mencium keningnya begitu lama dengan diiringi matahari yang tenggelam, ke peluk tubuhnya dengan mesra dan dia berkata “baru pertama kali aku merasakan sebuah ciuman dan pelukan yang begitu mesra, terima kasih buat rasa sayang yang kamu berikan, aku akan selalu menyayangimu” kata Ana sambil meneteskan air mata, hatiku pun terasa sedih, ku usap air matanya, “I love you” ku ucapkan lagi kata itu padanya, “I love you too” jawabnya sambil menangis. Akhirnya ku ajak Ana untuk pulang, Reza dan Tika menyambut kami “sombong orang yang sudah jadian nih, lupa ama kita, jalan-jalan gak mau ngajak-ngajak” kata Tika dan Reza sambil tersenyum, “aku kan sudah punya pacar, ngapain ajak kalian” jawabku sambil memegan tangannya Ana, tidak lama kemudian aku pulang dengan Reza, aku menceritakan semuanya kepada Reza, “syukurlah kalau begitu, dari pertama dia memang suka juga sama kamu, makanya jaga baik-baik dia, jangan sakiti hatinya” kata Reza kepadaku sambil menasihatiku.
Dua minggu berlalu, aku tidak pergi lagi ke kosnya Ana, hanya smsan dan telfonan saja. Pada suatu hari di saat aku ingin membawa ana ke tempat pertama ku bawa ana, tiba-tiba ku dengar kabar bahwa ana telah pulang kembali ke kampungnya, perasaan kaget di tambah kebingungan yang membuatku semakin penasaran, “ada apa dengan Ana, kenapa dia tidak mengabarkanku kalau dia ingin pulang, jangan-jangan dia tidak ingin lagi bertemu dengan aku karena aku tidak pergi kosnya dua minggu ini” kataku dalam hati mengiringi perasaanku yang tidak enak. Akhirnya aku berniat pergi mengunjungi rumahnya Ana,
“Tika, bisa gak kamu anterin aku ke rumahnya Ana”
“Aduh, maaf sat, aku gak tau rumahnya Ana, aku baru tinggal berdua ama Ana” kata Tika,
“Trus apa katanya sebelum dia pergi”
“dia hanya bilang aku pulang dulu ke rumah, itu aja” jawab Tika dengan gugup, seperti ada yang di sembunyikan.
Aku mencoba menghubungi Ana, menanyakan hal yang sama kepada Reza dan Tika tentang Ana, namun tidak ada hasil, Nomornya Ana sudah tidak aktif. Aku semakin bingung menghadapi ini semua, aku tidak tau kemana lagi aku harus mencari Ana, perasaan sedih ditambah takut kehilangan Ana menghiasi hari-hariku. Tiba-tiba keesokan harinya Tika dating ke rumahku dengan Reza “maaf satria karena aku tidak memberitau yang sebenarnya sama kamu, sebenarnya Ana mengidap penyakit kanker stadium, dan dia dari kemarin berada di rumah sakit untuk di operasi, Ana melarangku memberitau ini semua”, kata-kata Tika itu membuatku kaget, segera aku ke rumah sakit untuk menlihat Ana, perasaan yang begitu sedih aku rasakan saat menerima kabar bahwa ternyata Ana mengidap penyakit kanker, aku berharap akan bertemu dengan Ana lagi dan menjalani kisah-kisah indah kami seperti dulu.
Aku tiba di rumah sakit dengan perasaan yang begitu sedih, ku cari Ana di ruangannya namun tidak ku temukan Ana, “pasien yang bernama Ana sudah keluar tadi pagi” kata dokter di rumah sakit itu, aku merasa sedikit lega karena ternyata Ana telah sembuh. Aku menanyakan kepada Tika tempat tinggal Ana dan Tikapun memberi alamatnya. Sesampainya di rumah Ana tiba-tiba aku melihat kerumunan orang di sekitar rumahnya Ana, aku sangat takut dan sedih pada saat itu, kuhampiri seorang anak kecil yang ternyata adiknya Ana,
“maaf dek, ini kenapa ramai sekali ya di rumahnya Ana”
“kak Ananya sudah pergi kak, dia meninggal dunia di rumah sakit tadi pagi dan dia sekarang sudah dikubur, kakak ini kakak satria ya pacarnya kak Ana?”
“iya dek, bisa antarkan kakak di kuburannya Ana” jawabku dengan mata yang berkaca-kaca,
“bisa kak, ini ada titipan juga dari kak Ana untuk kakak”
Ku buka bungkusan kado dari ana, ku lihat satu fotoku bersama Ana saat di gunung dan selembar surat yang menuliskan semua isi hatinya Ana, dan satu kata terakhir dari Ana
“ I love you, forever”.










Post a Comment Blogger Disqus