0
Hanya tinggal kenangan              Sebuah masa lalu yang begitu sulit untuk ku lupakan, kenangan indah itu selalu menjadi penghias hari-hariku yang kelam, namun semua itu tinggalah sebuah cerita yang hanya bisa untuk ku kenang. Aku selalu berharap kenangan itu akan terulang kembali, namun aku tak tau dimana aku bisa mengulang semua itu, kisah cintaku telah lama pupus dan tak mudah untuk ku rangkai lagi, dan mungkin selamanya hanya bisa untuk diceritakan, tak lagi bisa untuk dijalani seperti dulu.  Setahun sudah aku menjalani hari-hariku sendiri setelah Dinda tak lagi bersamaku, Dinda yang selalu tampil ceria dengan penuh senyuman, selalu memberi kebahagiaan dengan candanya yang begitu unik kini tak lagi kurasakan. Dulu Dinda adalah teman sekelasku waktu SMA, tiap hari kami selalu membawa suasana ceria dalam kelas bersama teman-teman lainnya, aku dan Dinda sering dihukum karena telat dan selalu ribut dalam kelas, namun karena aku seorang cowok, aku selalu mendapatkan hukuman yang lebih berat dari Dinda, aku selalu memprotes soal itu karena tiap kali aku mendapat hukuman yang lebih berat darinya, aku selalu diejek oleh Dinda, tapi karena Dinda begitu baik kepadaku, dia selalu memberikan aku minuman setelah aku menjalani hukuman dengan berdiri dibawah terik matahari. Setiap hari Dinda selalu menghibur aku dan teman lainnya dengan candanya yang begitu unik, walau terkadang ia sering membuatku marah karena candanya. Dinda adalah anak yang ceria, kami dan teman sekelas selalu bergaul bersama, setiap kali waktu istirahat kami sekelas pergi bersama, karena sifat kami yang suka usil membuat kelas lainnya merasa terganggu.  Di hari libur kenaikan kelas, kami berencana untuk bertamasya ke pantai,  “Teman-teman semua, kita akan bertamasya pada hari minggu di pantai, khusus untuk kelas kita saja, kita pergi memakai motor dan yang tidak punya bisa nebeng ditemannya, setuju!”  “Ok, setuju”, teriak semua teman sekelasku.  Pada hari minggu, aku boncengan dengan Dinda ke pantai,  “Din, peluk donk! Masa sih aku capek-capek jemput kamu, tapi gak kamu peluk”  “enak aja! Emang kamu kira aku pacar kamu, seenaknya kamu minta peluk,”  “emang harus jadi pacar kamu dulu baru kamu mau peluk? Anggap aja aku pacar kamu”  “yeee! Suruh peluk pacar kamu sendiri donk, emang aku cewek apaan”  “kalau aku punya pacar, ngapain aku minta peluk ama kamu”  “gak mau akh”  “aku kan bukan ojek Din, masa aku bonceng kamu tapi gak kamu peluk”  Dengan mesra Dindapun memeluk badanku dan tidur di bahuku, sungguh hari yang indah bagiku, pertama kali aku dapat pelukan dari Dinda, saat itu aku merasa nyaman sekali saat Dinda memeluk aku, perasaanku pada Dinda mulai tumbuh. Aku dan Dinda tiba di pantai,  Dinda melepas pelukannya karena takut diliat teman-teman lainnya. Kami sekelas turun ke pantai untuk mandi, saat berenang tiba-tiba aku memeluk Dinda, aku begitu kaget karena baru pertama kali aku memeluk dan bertatapan begitu dekat dengan Dinda,  “oh, maaf Din, aku gak liat” jawabku saat tersadar dari tatapan mesra dengan Dinda  “gak apa-apa kok”  Kami dan teman-teman lainnyapun keluar mengeringkan badan untuk makan-makan bersama. Saat itu aku merasa canggung dengan Dinda, perasaan sayangku pada Dinda sedikit demi sediki mulai tumbuh, Aku mendapati Dinda yang sedang duduk sendirian sambil melihat pemandangan pantai,  “Din, aku minta maaf karena meluk kamu tadi, aku gak tau”  “iya gak apa-apa kok, aku juga kaget tadi”  Aku melihat sesuatu yang beda pada Dinda hari itu, Dinda yang biasanya ceria penuh canda, kini menjadi begitu kalem  “Kamu ternyata cantik juga ya Din, senyum kamu ternyata manis juga, aku merasa baru meliat kamu hari ini”  “gombal amet sih, biasa aja deh” jawab Dinda sambil tersenyum,  “serius Din, kamu keliatan cantik banget waktu kalem gitu, dan kalau boleh jujur Aku jadi sayang ama kamu”  “Maksudnya?” Tanya Dinda kebingungan,  “Senyumanmu, candamu, tawamu, amarahmu, kediamanmu, dan semua yang telah kurasakan darimu selama ini, tanpa kusadari telah menumbuhkan rasa cinta dalam hatiku. Aku cinta semua yang ada pada dirimu, dan ijinkan aku memilikinya”  Dinda terdiam dan kaget mendengarnya, “Aku juga sayang banget ama kamu”  Kata Dinda yang langsung memeluk tubuhku, ku peluk erat tubuhnya dengan mesra dan ku sandarkan dia dibahuku sambil melihat indahnya air laut yang disinari matahari, begitu sejuk dan terasa sangat nyaman saatku bersamanya, ku kecup bibirnya dengan penuh kemesraan, dan memeluk erat tubuhnya, hari terindah yang kurasakan bersamanya, sungguh indah.  Hari-hari kami jalani bersama sebagai sepasang kekasih, hingga tak terasa setahun sudah kami menjalaninya. Ujian akhirpun tiba, aku berharap ujian akhir ini tak mengakhiri hubungan kami, aku belum siap untuk berpisah dengannya begitupun dia. Di pagi hari yang cerah itu aku masih tidur lelap dalam kamar, aku tak tau ternyata hari itu adalah pengumuman kelulusan kami, aku begitu kaget ketika malam hari temanku datang memberitahuku tentang kelulusan dan berkata bahwa kelas kami 100% lulus, aku bahagia mendengarnya, namun sejenak aku merasakan kebahagiaan karena lulus ujian, aku teringat Dinda,  “trus kamu lihat Dinda gak tadi?”  “oh iya, dia kebingungan mencari kamu tadi, trus tiba-tiba dia pergi dengan muka yang begitu sedih”  Aku semakin khawatir tentang Dinda, lalu tak lama kemudian datang sms Dinda,  “aku akan pergi jauh malam ini, kalau kamu sayang ama aku, datang ke terminal”  Aku berlari menuju terminal, namun sesampainya disana aku hanya melihat lambaian tangan Dinda di kaca jendela bus sambil meneteskan air matanya, dia perlihatkan padaku tulisan “I LOVE YOU FOREVER, GOODBYE”.  Aku tak tau maksud semua itu, tapi yang jelas akhir masa SMA itu mengakhiri semua hubunganku dengan Dinda, dia telah pergi entah kemana, dan sampai saat ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya. Dinda dan semua kisah bersamanya telah jadi kenangan terindahku yang tersimpan selamanya di lubuk hati kecilku, hanya untuk ku kenang.  aku hanya bisa mengenang saat-saat itu, saat dimana kami dihukum bersama, memberiku sebotol air minum sambil tersipu malu, saat bercanda, tertawa bersama, saat dia memeluk tubuhku dengan mesra dan ku cium bibirnya disaksikan ombak dan sinar matahari, hingga tulisan I love you dan lambaian tangan terakhirnya.
Hanya tinggal kenangan

            Sebuah masa lalu yang begitu sulit untuk ku lupakan, kenangan indah itu selalu menjadi penghias hari-hariku yang kelam, namun semua itu tinggalah sebuah cerita yang hanya bisa untuk ku kenang. Aku selalu berharap kenangan itu akan terulang kembali, namun aku tak tau dimana aku bisa mengulang semua itu, kisah cintaku telah lama pupus dan tak mudah untuk ku rangkai lagi, dan mungkin selamanya hanya bisa untuk diceritakan, tak lagi bisa untuk dijalani seperti dulu.
Setahun sudah aku menjalani hari-hariku sendiri setelah Dinda tak lagi bersamaku, Dinda yang selalu tampil ceria dengan penuh senyuman, selalu memberi kebahagiaan dengan candanya yang begitu unik kini tak lagi kurasakan. Dulu Dinda adalah teman sekelasku waktu SMA, tiap hari kami selalu membawa suasana ceria dalam kelas bersama teman-teman lainnya, aku dan Dinda sering dihukum karena telat dan selalu ribut dalam kelas, namun karena aku seorang cowok, aku selalu mendapatkan hukuman yang lebih berat dari Dinda, aku selalu memprotes soal itu karena tiap kali aku mendapat hukuman yang lebih berat darinya, aku selalu diejek oleh Dinda, tapi karena Dinda begitu baik kepadaku, dia selalu memberikan aku minuman setelah aku menjalani hukuman dengan berdiri dibawah terik matahari. Setiap hari Dinda selalu menghibur aku dan teman lainnya dengan candanya yang begitu unik, walau terkadang ia sering membuatku marah karena candanya. Dinda adalah anak yang ceria, kami dan teman sekelas selalu bergaul bersama, setiap kali waktu istirahat kami sekelas pergi bersama, karena sifat kami yang suka usil membuat kelas lainnya merasa terganggu.
Di hari libur kenaikan kelas, kami berencana untuk bertamasya ke pantai,
“Teman-teman semua, kita akan bertamasya pada hari minggu di pantai, khusus untuk kelas kita saja, kita pergi memakai motor dan yang tidak punya bisa nebeng ditemannya, setuju!”
“Ok, setuju”, teriak semua teman sekelasku.
Pada hari minggu, aku boncengan dengan Dinda ke pantai,
“Din, peluk donk! Masa sih aku capek-capek jemput kamu, tapi gak kamu peluk”
“enak aja! Emang kamu kira aku pacar kamu, seenaknya kamu minta peluk,”
“emang harus jadi pacar kamu dulu baru kamu mau peluk? Anggap aja aku pacar kamu”
“yeee! Suruh peluk pacar kamu sendiri donk, emang aku cewek apaan”
“kalau aku punya pacar, ngapain aku minta peluk ama kamu”
“gak mau akh”
“aku kan bukan ojek Din, masa aku bonceng kamu tapi gak kamu peluk”
Dengan mesra Dindapun memeluk badanku dan tidur di bahuku, sungguh hari yang indah bagiku, pertama kali aku dapat pelukan dari Dinda, saat itu aku merasa nyaman sekali saat Dinda memeluk aku, perasaanku pada Dinda mulai tumbuh. Aku dan Dinda tiba di pantai,
Dinda melepas pelukannya karena takut diliat teman-teman lainnya. Kami sekelas turun ke pantai untuk mandi, saat berenang tiba-tiba aku memeluk Dinda, aku begitu kaget karena baru pertama kali aku memeluk dan bertatapan begitu dekat dengan Dinda,
“oh, maaf Din, aku gak liat” jawabku saat tersadar dari tatapan mesra dengan Dinda
“gak apa-apa kok”
Kami dan teman-teman lainnyapun keluar mengeringkan badan untuk makan-makan bersama. Saat itu aku merasa canggung dengan Dinda, perasaan sayangku pada Dinda sedikit demi sediki mulai tumbuh, Aku mendapati Dinda yang sedang duduk sendirian sambil melihat pemandangan pantai,
“Din, aku minta maaf karena meluk kamu tadi, aku gak tau”
“iya gak apa-apa kok, aku juga kaget tadi”
Aku melihat sesuatu yang beda pada Dinda hari itu, Dinda yang biasanya ceria penuh canda, kini menjadi begitu kalem
“Kamu ternyata cantik juga ya Din, senyum kamu ternyata manis juga, aku merasa baru meliat kamu hari ini”
“gombal amet sih, biasa aja deh” jawab Dinda sambil tersenyum,
“serius Din, kamu keliatan cantik banget waktu kalem gitu, dan kalau boleh jujur Aku jadi sayang ama kamu”
“Maksudnya?” Tanya Dinda kebingungan,
“Senyumanmu, candamu, tawamu, amarahmu, kediamanmu, dan semua yang telah kurasakan darimu selama ini, tanpa kusadari telah menumbuhkan rasa cinta dalam hatiku. Aku cinta semua yang ada pada dirimu, dan ijinkan aku memilikinya”
Dinda terdiam dan kaget mendengarnya, “Aku juga sayang banget ama kamu”
Kata Dinda yang langsung memeluk tubuhku, ku peluk erat tubuhnya dengan mesra dan ku sandarkan dia dibahuku sambil melihat indahnya air laut yang disinari matahari, begitu sejuk dan terasa sangat nyaman saatku bersamanya, ku kecup bibirnya dengan penuh kemesraan, dan memeluk erat tubuhnya, hari terindah yang kurasakan bersamanya, sungguh indah.
Hari-hari kami jalani bersama sebagai sepasang kekasih, hingga tak terasa setahun sudah kami menjalaninya. Ujian akhirpun tiba, aku berharap ujian akhir ini tak mengakhiri hubungan kami, aku belum siap untuk berpisah dengannya begitupun dia. Di pagi hari yang cerah itu aku masih tidur lelap dalam kamar, aku tak tau ternyata hari itu adalah pengumuman kelulusan kami, aku begitu kaget ketika malam hari temanku datang memberitahuku tentang kelulusan dan berkata bahwa kelas kami 100% lulus, aku bahagia mendengarnya, namun sejenak aku merasakan kebahagiaan karena lulus ujian, aku teringat Dinda,
“trus kamu lihat Dinda gak tadi?”
“oh iya, dia kebingungan mencari kamu tadi, trus tiba-tiba dia pergi dengan muka yang begitu sedih”
Aku semakin khawatir tentang Dinda, lalu tak lama kemudian datang sms Dinda,
“aku akan pergi jauh malam ini, kalau kamu sayang ama aku, datang ke terminal”
Aku berlari menuju terminal, namun sesampainya disana aku hanya melihat lambaian tangan Dinda di kaca jendela bus sambil meneteskan air matanya, dia perlihatkan padaku tulisan “I LOVE YOU FOREVER, GOODBYE”.
Aku tak tau maksud semua itu, tapi yang jelas akhir masa SMA itu mengakhiri semua hubunganku dengan Dinda, dia telah pergi entah kemana, dan sampai saat ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya. Dinda dan semua kisah bersamanya telah jadi kenangan terindahku yang tersimpan selamanya di lubuk hati kecilku, hanya untuk ku kenang.
aku hanya bisa mengenang saat-saat itu, saat dimana kami dihukum bersama, memberiku sebotol air minum sambil tersipu malu, saat bercanda, tertawa bersama, saat dia memeluk tubuhku dengan mesra dan ku cium bibirnya disaksikan ombak dan sinar matahari, hingga tulisan I love you dan lambaian tangan terakhirnya.

Post a Comment Blogger Disqus