0
“Aku tahu, Nita,” ujar Pram suatu hari.
“Tahu apa?” tanyaku tanpa curiga.
“Kau sedang dekat dengan pria lain.”
“Apa maksudmu? Pria yang mana?” tanyaku lagi, dan sekarang aku mulai curiga dia telah mencium jejak kebohonganku.
“Kau berubah. Terlampau jauh berubah.”
“Aku tidak pernah berubah, Pram. Aku tetaplah diriku yang seperti ini. Apa yang membuatmu menilai diriku berubah?”
“Ya, itu tadi. Kau sedang dekat dengan pria lain, dan itu yang membuatmu berubah.”
Hmm… Mungkin inilah saatnya aku berbicara soal kejujuran itu. Pastinya akan pahit untuknya. Tapi aku harus bisa melakukannya. Pram bukan hanya sekedar kekasihku. Dia tunanganku. Aku yang memilih dia untuk menjadi calon suamiku dan aku tidak boleh menyesal dengan pilihan yang kubuat sendiri.
Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Memiliki kedekatan dengan orang lain, sementara aku sudah bersama Pram. Tapi, apakah aku yang salah ketika rasa itu datang begitu saja menghampiriku? Aku tidak pernah memintanya hadir, rasa itu yang datang sendiri menghampiriku. Sekali lagi aku tanya. Apakah aku salah?
Kadang aku menginginkan suatu keadaan di mana aku sedang tidak terikat dengan suatu hubungan apapun. Aku rindu kesendirian itu bukan karena aku ingin sendiri. Hanya saja, aku ingin bisa jatuh cinta lagi kapanpun aku mau, dan dengan siapapun.
“Kau ingin tahu siapa dia. Itu kan maksudmu sedari tadi?!” tanyaku.
“Ya. Kau betul.”
“Mereka semua sahabatku. Dan pria itu…. Dia pun sahabatku, dan aku sayang padanya. Apa kau paham kata – kataku, Pram?”
“Kau tidak boleh menyayanginya.”
“Mengapa?”
“Karena kau milikku. Kau tidak boleh mencintai pria lain.”
“Aku tidak mencintainya. Aku hanya sayang dan peduli kepadanya. Apa itu salah? Dan satu lagi. Aku bukan milikmu, atau milik siapapun juga. Aku milik diriku sendiri. Jadi aku bebas memilih untuk menjatuhkan perasaanku pada siapapun.”
Manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Termasuk aku, mungkin. Ah…, tidak. Aku bukannya tidak puas dengan pilihanku sendiri. Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja hanya bisa aku dapatkan ketika aku melenceng sedikit dari jalan setapak kehidupanku. Aku yakin, aku tidak sendirian berkubang dalam ketermelencengan itu.
“Jadi…, apa keputusanmu, Nita?”
“Keputusan yang mana lagi, Pram? Aku pikir kau sudah mengerti apa yang baru saja aku katakan.”
“Tidak. Itu belum cukup memberi kepastian untukku.”
“Pram…. Jika aku menyesal dengan pilihanku sendiri, mungkin saat ini kita tidak sedang berbicara di kamar ini. Percakapan ini membuatku harus berpikir ulang, apakah pilihanku sudah cukup membuatku nyaman. Jadi, sekali lagi kau menanyakan sesuatu tentang persahabatanku dengan pria itu, mungkin aku akan menjadi menyesal telah memilihmu.”
Hidup adalah pilihan. Dan aku telah memantapkan pilihanku sendiri. Sekali lagi aku tegaskan pada diriku sendiri, aku tidak boleh menyesalinya.
Soal pria lain yang dimaksud Pram tadi…, well…. Dia sahabatku… dan aku sayang padanya.

Karya: Sekar Mayang

“Aku tahu, Nita,” ujar Pram suatu hari.  “Tahu apa?” tanyaku tanpa curiga.  “Kau sedang dekat dengan pria lain.”  “Apa maksudmu? Pria yang mana?” tanyaku lagi, dan sekarang aku mulai curiga dia telah mencium jejak kebohonganku.  “Kau berubah. Terlampau jauh berubah.”  “Aku tidak pernah berubah, Pram. Aku tetaplah diriku yang seperti ini. Apa yang membuatmu menilai diriku berubah?”  “Ya, itu tadi. Kau sedang dekat dengan pria lain, dan itu yang membuatmu berubah.”  Hmm… Mungkin inilah saatnya aku berbicara soal kejujuran itu. Pastinya akan pahit untuknya. Tapi aku harus bisa melakukannya. Pram bukan hanya sekedar kekasihku. Dia tunanganku. Aku yang memilih dia untuk menjadi calon suamiku dan aku tidak boleh menyesal dengan pilihan yang kubuat sendiri.  Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Memiliki kedekatan dengan orang lain, sementara aku sudah bersama Pram. Tapi, apakah aku yang salah ketika rasa itu datang begitu saja menghampiriku? Aku tidak pernah memintanya hadir, rasa itu yang datang sendiri menghampiriku. Sekali lagi aku tanya. Apakah aku salah?  Kadang aku menginginkan suatu keadaan di mana aku sedang tidak terikat dengan suatu hubungan apapun. Aku rindu kesendirian itu bukan karena aku ingin sendiri. Hanya saja, aku ingin bisa jatuh cinta lagi kapanpun aku mau, dan dengan siapapun.  “Kau ingin tahu siapa dia. Itu kan maksudmu sedari tadi?!” tanyaku.  “Ya. Kau betul.”  “Mereka semua sahabatku. Dan pria itu…. Dia pun sahabatku, dan aku sayang padanya. Apa kau paham kata – kataku, Pram?”  “Kau tidak boleh menyayanginya.”  “Mengapa?”  “Karena kau milikku. Kau tidak boleh mencintai pria lain.”  “Aku tidak mencintainya. Aku hanya sayang dan peduli kepadanya. Apa itu salah? Dan satu lagi. Aku bukan milikmu, atau milik siapapun juga. Aku milik diriku sendiri. Jadi aku bebas memilih untuk menjatuhkan perasaanku pada siapapun.”  Manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Termasuk aku, mungkin. Ah…, tidak. Aku bukannya tidak puas dengan pilihanku sendiri. Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja hanya bisa aku dapatkan ketika aku melenceng sedikit dari jalan setapak kehidupanku. Aku yakin, aku tidak sendirian berkubang dalam ketermelencengan itu.  “Jadi…, apa keputusanmu, Nita?”  “Keputusan yang mana lagi, Pram? Aku pikir kau sudah mengerti apa yang baru saja aku katakan.”  “Tidak. Itu belum cukup memberi kepastian untukku.”  “Pram…. Jika aku menyesal dengan pilihanku sendiri, mungkin saat ini kita tidak sedang berbicara di kamar ini. Percakapan ini membuatku harus berpikir ulang, apakah pilihanku sudah cukup membuatku nyaman. Jadi, sekali lagi kau menanyakan sesuatu tentang persahabatanku dengan pria itu, mungkin aku akan menjadi menyesal telah memilihmu.”  Hidup adalah pilihan. Dan aku telah memantapkan pilihanku sendiri. Sekali lagi aku tegaskan pada diriku sendiri, aku tidak boleh menyesalinya.  Soal pria lain yang dimaksud Pram tadi…, well…. Dia sahabatku… dan aku sayang padanya.  Karya: Sekar Mayang  Dia Sahabatku… dan Aku Sayang Padanya…
Dia Sahabatku… dan Aku Sayang Padanya…

Post a Comment Blogger Disqus