2
“Nisa…. Menikahlah denganku. Akan kulunasi semua hutang ayahmu di lima bank itu,” pinta Arman.

Nisa tidak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan pria di hadapannya. Bulir – bulir bening telah menyeruak keluar dari mata indahnya. Nisa menangis.

Hati Nisa remuk kala itu juga. Ternyata ini tujuan utama dari pertemuan yang telah dirancang oleh orang tuanya. Sebuah perjodohan dengan syarat yang menurut Nisa sangat absurd. Seharusnya orang tuanya tidak mengorbankan dirinya hanya untuk kepentingan hutang piutang.

Hidup memang belum cukup adil untuk Nisa. Tapi ia harus tetap menjalaninya, demi keluarga.

***

Teruntuk kekasih hatiku…

Gerbang itu hanya sejengkal lagi dari hadapanku

Namun aku seolah tak bisa menjangkaunya

Tupai – tupai nakal sudah menggodaku untuk segera melangkah

Meninggalkanmu dalam kesendirian

Aku pergi bukan karena tak setiaku

Aku pergi bukan karena bosan dengan sayangmu

Mereka telah menukar diriku demi sebuah pengampunan

Mereka menganggapku tak ubahnya seperti barang dagangan

Aku takut… marah… sedih… kecewa… dan sakit…

Tak bisa aku dengan lantang berteriak dan menggeram

Aku berkubang dalam lumpur yang mereka sebut sebagai bakti

Dan aku tak bisa memintamu untuk menarikku dari kubangan lumpur yang pekat ini

Dan aku memang pergi bukan karena tak setiaku atau bosan dengan sayangmu

Jadi janganlah kau menangisi diriku

Jangan kau jual pula harga dirimu demi mendapatkan diriku kembali

Karena, walau raga ini menjadi milik seseorang di sana, tapi hatiku selalu untuk dirimu…

Nisa melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Esok, setelah Arman berangkat ke kantor, ia akan pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu untuk Beni.

***

Plaaakk!!!

“Apa kau bilang? Kau ingin berpisah denganku?! Meski berjuta – juta kali kau minta hal itu dariku, aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu,” teriak Arman.

Nisa terpojok di sudut kamar, terduduk sambil memegangi pipinya yang pedih terkena tamparan Arman. Sambil terisak ia terus membela diri.

“Tapi apalagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini? Dari awal saja, niat kita menikah bukan karena cinta, Mas.”

“Peduli apa soal cinta?! Kalau aku tidak menyelamatkan keuangan keluargamu, mungkin kau sudah berakhir menjadi tukang cuci piring di warung makan. Dan meskipun aku sudah melunasi hutang – hutang ayahmu di bank, aku masih bisa membuat keluargamu terpuruk di dasar jurang kemiskinan yang paling dalam. Camkan itu, Nisa!! Kau tidak mungkin lari dariku!!”

***

Nisa mengambil sebuah cangkir dari rak piring. Ia lalu mengisi cangkir itu dengan kopi dan gula dan diseduh dengan air panas. Ia mengaduk kopi dengan tenang dan disertai senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.

Nisa merogoh saku celananya dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia membuka tutup botol itu dan meneteskan cairan bening itu ke dalam cangkir. Kemudian ia mengaduk lagi kopi itu untuk terakhir kalinya.

Nisa berjalan ke ruang makan sambil membawa cangkir berisi kopi itu.

“Ini kopinya, Mas. Silahkan diminum.”

“Iya, makasih,” sahut Arman sambil terus membaca koran.

Arman tidak memperhatikan bahwa sedari tadi Nisa memakai sarung tangan plastik yang biasa digunakan ketika hendak mengolah ikan laut.

Nisa kembali menuju dapur. Ia mengambil seikat kangkung yang tadi dibelinya di pasar. Ia dengan santainya memotong – motong batang kangkung.

Setelah beberapa menit, tiba – tiba terdengar bunyi berdebam yang cukup keras. Seperti ada benda berat yang jatuh ke lantai. Tapi Nisa tidak segera mencari tahu asal bunyi itu. Ia hanya menunggu beberapa menit sambil memandang pemandangan di luar jendela dapur. Ia sudah tidak menyentuh kangkung itu lagi.

Beberapa menit sudah berlalu, Nisa beranjak menuju kamarnya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas jinjing yang tak terlalu besar. Tas itu berisi beberapa potong baju dan uang tunai 10 juta.

Nisa keluar kamar dan berdiri memandang ke arah meja makan. Di lantai ada sesosok tubuh yang sudah tidak bergerak dan mulutnya mengeluarkan busa berwarna putih. Nisa merogoh saku celananya lagi dan memandang botol kecil berisi obat tetes mata itu sambil tersenyum.

Rencana Nisa sudah berhasil. Kini ia bisa pergi dengan bebas.

Cirebon - 131111


Karya: Sekar Mayang

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/11/13/cerita-nisa-aku-bukan-siti-nurbaya/

“Nisa…. Menikahlah denganku. Akan kulunasi semua hutang ayahmu di lima bank itu,” pinta Arman.  Nisa tidak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan pria di hadapannya. Bulir – bulir bening telah menyeruak keluar dari mata indahnya. Nisa menangis.  Hati Nisa remuk kala itu juga. Ternyata ini tujuan utama dari pertemuan yang telah dirancang oleh orang tuanya. Sebuah perjodohan dengan syarat yang menurut Nisa sangat absurd. Seharusnya orang tuanya tidak mengorbankan dirinya hanya untuk kepentingan hutang piutang.  Hidup memang belum cukup adil untuk Nisa. Tapi ia harus tetap menjalaninya, demi keluarga.  ***  Teruntuk kekasih hatiku…  Gerbang itu hanya sejengkal lagi dari hadapanku  Namun aku seolah tak bisa menjangkaunya  Tupai – tupai nakal sudah menggodaku untuk segera melangkah  Meninggalkanmu dalam kesendirian  Aku pergi bukan karena tak setiaku  Aku pergi bukan karena bosan dengan sayangmu  Mereka telah menukar diriku demi sebuah pengampunan  Mereka menganggapku tak ubahnya seperti barang dagangan  Aku takut… marah… sedih… kecewa… dan sakit…  Tak bisa aku dengan lantang berteriak dan menggeram  Aku berkubang dalam lumpur yang mereka sebut sebagai bakti  Dan aku tak bisa memintamu untuk menarikku dari kubangan lumpur yang pekat ini  Dan aku memang pergi bukan karena tak setiaku atau bosan dengan sayangmu  Jadi janganlah kau menangisi diriku  Jangan kau jual pula harga dirimu demi mendapatkan diriku kembali  Karena, walau raga ini menjadi milik seseorang di sana, tapi hatiku selalu untuk dirimu…  Nisa melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Esok, setelah Arman berangkat ke kantor, ia akan pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu untuk Beni.  ***  Plaaakk!!!  “Apa kau bilang? Kau ingin berpisah denganku?! Meski berjuta – juta kali kau minta hal itu dariku, aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu,” teriak Arman.  Nisa terpojok di sudut kamar, terduduk sambil memegangi pipinya yang pedih terkena tamparan Arman. Sambil terisak ia terus membela diri.  “Tapi apalagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini? Dari awal saja, niat kita menikah bukan karena cinta, Mas.”  “Peduli apa soal cinta?! Kalau aku tidak menyelamatkan keuangan keluargamu, mungkin kau sudah berakhir menjadi tukang cuci piring di warung makan. Dan meskipun aku sudah melunasi hutang – hutang ayahmu di bank, aku masih bisa membuat keluargamu terpuruk di dasar jurang kemiskinan yang paling dalam. Camkan itu, Nisa!! Kau tidak mungkin lari dariku!!”  ***  Nisa mengambil sebuah cangkir dari rak piring. Ia lalu mengisi cangkir itu dengan kopi dan gula dan diseduh dengan air panas. Ia mengaduk kopi dengan tenang dan disertai senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.  Nisa merogoh saku celananya dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia membuka tutup botol itu dan meneteskan cairan bening itu ke dalam cangkir. Kemudian ia mengaduk lagi kopi itu untuk terakhir kalinya.  Nisa berjalan ke ruang makan sambil membawa cangkir berisi kopi itu.  “Ini kopinya, Mas. Silahkan diminum.”  “Iya, makasih,” sahut Arman sambil terus membaca koran.  Arman tidak memperhatikan bahwa sedari tadi Nisa memakai sarung tangan plastik yang biasa digunakan ketika hendak mengolah ikan laut.  Nisa kembali menuju dapur. Ia mengambil seikat kangkung yang tadi dibelinya di pasar. Ia dengan santainya memotong – motong batang kangkung.  Setelah beberapa menit, tiba – tiba terdengar bunyi berdebam yang cukup keras. Seperti ada benda berat yang jatuh ke lantai. Tapi Nisa tidak segera mencari tahu asal bunyi itu. Ia hanya menunggu beberapa menit sambil memandang pemandangan di luar jendela dapur. Ia sudah tidak menyentuh kangkung itu lagi.  Beberapa menit sudah berlalu, Nisa beranjak menuju kamarnya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas jinjing yang tak terlalu besar. Tas itu berisi beberapa potong baju dan uang tunai 10 juta.  Nisa keluar kamar dan berdiri memandang ke arah meja makan. Di lantai ada sesosok tu
Cerita Nisa: Aku Bukan Siti Nurbaya!!!

Post a Comment Blogger Disqus

  1. Perjodohan memang masih banyak di lakukan oleh orang" yang masih memegang teguh prinsip hidup mereka,
    Cerita nisa yang seolah olah mirip kisah siti Nurbaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas,
      Seharusnya orang tuanya itu tidak mengorbankan anak hanya untuk kepentingan hutang piutang yang orang tuanya lakukan.

      Delete