0
Julie Howard terlonjak dari kursinya, Lamunannya seketika itu buyar karena dering ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Julie menyambar ponselnya dan langsung menjawab telepon tanpa melihat dulu nama yang tertera di layar ponsel.

“Hallo.”

“Julie Howard,” kata si penelepon. “Atau bolehkah aku memanggilmu Julie Elizabeth Andrews?” sambung suara di ujung telepon.

Julie terkejut. Ia melihat layar ponselnya. Hanya ada sederet angka tanpa ada nama. Berarti si penelepon adalah orang asing. Tapi bagaimana orang itu bisa tahu nama gadis Julie?

“Siapa kau?” tanya Julie yang mulai curiga.

“Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri,” sahut suara itu.

“Dari mana kau tahu namaku?” potong Julie sebelum si penelepon mulai berbicara lagi.

“Wow. Sabar, Julie. Aku tahu kau orang yang sabar dan juga teliti. Itulah sebabnya kau berhasil menjadi seorang pengacara yang handal. Tenangkan dirimu dan aku akan menjelaskan siapa diriku.”

“Oke. Aku mendengarkan,” sahut Julie dengan ketus.

“Hmm…. Kau tidak berubah, Julie. Masih sama seperti lima belas tahun yang lalu saat aku baru mengenalmu di bangku kuliah. Kau seorang gadis cantik yang ketus dan tergila – gila pada suasana musim gugur.”

Julie terkejut untuk kedua kalinya. Bagaimana tidak? Karena tidak ada satu orang pun yang tahu soal rahasia kecil itu, bahkan suami Julie sekalipun. Kecuali satu orang.

“Kau… William Crowe?” tanya Julie.

“Syukurlah kau masih mengingatku, Julie. Aku kagum pada memori otakmu,” jawab William.

“Dari mana kau bisa mendapatkan nomor ponselku?”

“Tak perlu khawatir, Julie. Aku mendapat nomormu dari seseorang yang sangat bisa kau percaya.”

“Dan siapa dia?”

“Steve Howard, suamimu.”

Dan ini kali ketiga Julie terkejut. Suara di ujung telepon sama persis dengan suara seseorang yang sekarang berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Julie. Perlahan Julie menengok ke arah belakang dan lengkap sudah kejutan untuk hari ini. Ia melihat William Crowe sudah berdiri tepat di hadapannya sekarang.

“Hai, Julie,” sapa William sembari menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Julie bingung. Banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. Tapi yang pertama kali akan ia kerjakan saat ini adalah segera berlari ke ruangan Steve Howard, suaminya.

“Aku permisi sebentar, ya. Kau, tunggu di sini. Aku tak akan lama.”

“Oke,” jawab William.

Setangah berlari, Julie menuju ruangan Steve. Di ruangan itu, Steve masih menerima tamu. Tapi Steve sudah melihat Julie berdiri di luar ruangan, lalu Steve memberi kode pada Julie agar menunggu sejenak.

Julie menunggu selama lima menit sebelum akhirnya tamu Steve keluar ruangan. Setelah tamu itu menjauh, Julie segera menarik tangan Steve untuk segera memasuki ruangan. Lalu Julie menutup pintu dan menurunkan tirai.

“Ada apa, sayang? Ini masih jam kerja. Kita bisa melakukannya nanti di rumah.”

“Aku tidak sedang ingin becanda, Steve. Sebaiknya cepat kau jelaskan padaku. Mengapa ada seorang William Crowe berdiri di samping meja kerjaku sekarang?”

“Oh, itu. Maaf, aku lupa memberitahukan kepadamu, Julie. William Crowe sekarang telah bergabung dengan firma kita.”

“Jelaskan lagi! Itu belum cukup menjawab rasa penasaranku. Bukankah karir William Crowe baik – baik saja di New York? Walaupun kebiasaan buruknya kadang menghambat kerja otaknya. Tapi selebihnya, ia tidak punya alasan kuat untuk pindah kemari. Apa yang sebenarnya membuat ia jauh – jauh datang ke San Francisco? Tentunya ia sedang tidak ingin mengikuti audisi untuk menjadi seorang actor, kan?!”

“Hahaha…. Tentu tidak, Julie,” jawab Steve sambil berjalan kembali ke balik meja kerjanya. “Aku tahu bahwa William adalah teman kuliahmu. Makanya aku terima ia bergabung di firma ini. Dan sebenarnya, ia sangat tertarik pada kasus Alicia Jensen.”

“Apa?! Itu tidak masuk akal. Kejadian itu baru dua hari yang lalu. Bagaimana mungkin William langsung ingin pindah ke firma ini? Paling tidak butuh lebih dari satu minggu untuk mengurus tetek bengek kepindahan itu.”

“Itu memang benar. William memang sudah mengajukan permohonan sebelum kasus Alicia terjadi. Tepatnya satu bulan yang lalu.”

“Dan mengapa kau baru memberitahukan semuanya kepadaku sekarang?”

“Aku minta maaf, sayang. Aku….”

“Oke. Cukup. Tak perlu kau jelaskan lagi. Aku sudah mengerti semuanya. Aku akan kembali ke mejaku sekarang.”

Julie hendak membuka pintu ruangan Steve ketika Steve memanggilnya kembali.

“Satu lagi, Julie.”

Julie berhenti sejenak.

“Aku sudah menjadwalkan kau dan William untuk bertemu Alicia hari ini di kantor polisi. Pukul dua siang,” lanjut Steve.

Julie keluar ruangan tanpa merespon perkataan Steve namun ia pasti akan mengerjakan perintah itu. Sekarang baru pukul sebelas. Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum pertemuan itu. Dan Julie akan mempergunakan waktu itu untuk menginterogasi William.

William masih berdiri di tempat semula ketika Julie meninggalkannya. Ia tersenyum melihat Julie sudah kembali dari ruangan kerja Steve.

“Jadi?” tanya William.

“Steve sudah menjelaskan semuanya padaku.”

“Lalu?!”

“Selamat datang di firma Howard and Friends. Kau akan menempati meja kerja di sebelahku,” kata Julie sambil menunjuk sebuah meja kerja kosong di samping meja kerjanya.

“Itu saja?” tanya William. “Ayolah, Julie. Jangan bercanda.”

“Aku sedang tidak bercanda, Bill.”

“Wow. Dan kau pun masih ingat nama panggilanku. Awesome! Lima belas tahun dan kau masih ingat itu.”

“Urrgh. Sudahlah. Tak perlu kau teruskan membahas hal itu. Ayo kita pergi.” Julie mengambil tas kerjanya lalu berjalan meninggalkan meja kerjanya.

“Kemana kita sekarang?” tanya William sambil mencoba menyamakan ritme langkah dengan Julie.

“Bertemu Alicia Jensen. Bukankah itu yang kau inginkan, Bill?!”

“Ng…, bukan itu tepatnya. Tapi, baiklah.”

Julie dan William pergi meninggalkan kantor dengan menggunakan mobil milik Julie. Mereka menuju San Francisco Police Department untuk bertemu dengan Alicia. Tapi sebelumnya, mereka singgah ke sebuah kedai yang tak jauh dari kantor polisi.

“Kau bilang kita akan bertemu Alicia Jensen. Tapi mengapa kita malah kemari?”

“Anggap saja ini sebuah pesta penyambutan untukmu dari Howard and Friends. Aku akan menraktirmu makan siang. Lagipula, pertemuan itu masih dua setengah jam lagi,” jawab Julie.

Karya: Sekar Mayang

Julie Howard terlonjak dari kursinya, Lamunannya seketika itu buyar karena dering ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Julie menyambar ponselnya dan langsung menjawab telepon tanpa melihat dulu nama yang tertera di layar ponsel.  “Hallo.”  “Julie Howard,” kata si penelepon. “Atau bolehkah aku memanggilmu Julie Elizabeth Andrews?” sambung suara di ujung telepon.  Julie terkejut. Ia melihat layar ponselnya. Hanya ada sederet angka tanpa ada nama. Berarti si penelepon adalah orang asing. Tapi bagaimana orang itu bisa tahu nama gadis Julie?  “Siapa kau?” tanya Julie yang mulai curiga.  “Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri,” sahut suara itu.  “Dari mana kau tahu namaku?” potong Julie sebelum si penelepon mulai berbicara lagi.  “Wow. Sabar, Julie. Aku tahu kau orang yang sabar dan juga teliti. Itulah sebabnya kau berhasil menjadi seorang pengacara yang handal. Tenangkan dirimu dan aku akan menjelaskan siapa diriku.”  “Oke. Aku mendengarkan,” sahut Julie dengan ketus.  “Hmm…. Kau tidak berubah, Julie. Masih sama seperti lima belas tahun yang lalu saat aku baru mengenalmu di bangku kuliah. Kau seorang gadis cantik yang ketus dan tergila – gila pada suasana musim gugur.”  Julie terkejut untuk kedua kalinya. Bagaimana tidak? Karena tidak ada satu orang pun yang tahu soal rahasia kecil itu, bahkan suami Julie sekalipun. Kecuali satu orang.  “Kau… William Crowe?” tanya Julie.  “Syukurlah kau masih mengingatku, Julie. Aku kagum pada memori otakmu,” jawab William.  “Dari mana kau bisa mendapatkan nomor ponselku?”  “Tak perlu khawatir, Julie. Aku mendapat nomormu dari seseorang yang sangat bisa kau percaya.”  “Dan siapa dia?”  “Steve Howard, suamimu.”  Dan ini kali ketiga Julie terkejut. Suara di ujung telepon sama persis dengan suara seseorang yang sekarang berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Julie. Perlahan Julie menengok ke arah belakang dan lengkap sudah kejutan untuk hari ini. Ia melihat William Crowe sudah berdiri tepat di hadapannya sekarang.  “Hai, Julie,” sapa William sembari menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.  Julie bingung. Banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. Tapi yang pertama kali akan ia kerjakan saat ini adalah segera berlari ke ruangan Steve Howard, suaminya.  “Aku permisi sebentar, ya. Kau, tunggu di sini. Aku tak akan lama.”  “Oke,” jawab William.  Setangah berlari, Julie menuju ruangan Steve. Di ruangan itu, Steve masih menerima tamu. Tapi Steve sudah melihat Julie berdiri di luar ruangan, lalu Steve memberi kode pada Julie agar menunggu sejenak.  Julie menunggu selama lima menit sebelum akhirnya tamu Steve keluar ruangan. Setelah tamu itu menjauh, Julie segera menarik tangan Steve untuk segera memasuki ruangan. Lalu Julie menutup pintu dan menurunkan tirai.  “Ada apa, sayang? Ini masih jam kerja. Kita bisa melakukannya nanti di rumah.”  “Aku tidak sedang ingin becanda, Steve. Sebaiknya cepat kau jelaskan padaku. Mengapa ada seorang William Crowe berdiri di samping meja kerjaku sekarang?”  “Oh, itu. Maaf, aku lupa memberitahukan kepadamu, Julie. William Crowe sekarang telah bergabung dengan firma kita.”  “Jelaskan lagi! Itu belum cukup menjawab rasa penasaranku. Bukankah karir William Crowe baik – baik saja di New York? Walaupun kebiasaan buruknya kadang menghambat kerja otaknya. Tapi selebihnya, ia tidak punya alasan kuat untuk pindah kemari. Apa yang sebenarnya membuat ia jauh – jauh datang ke San Francisco? Tentunya ia sedang tidak ingin mengikuti audisi untuk menjadi seorang actor, kan?!”  “Hahaha…. Tentu tidak, Julie,” jawab Steve sambil berjalan kembali ke balik meja kerjanya. “Aku tahu bahwa William adalah teman kuliahmu. Makanya aku terima ia bergabung di firma ini. Dan sebenarnya, ia sangat tertarik pada kasus Alicia Jensen.”  “Apa?! Itu tidak masuk akal. Kejadian itu baru dua hari yang lalu. Bagaimana mungkin William langsung ingin pindah ke firma ini? Paling tidak butuh lebih dari satu minggu untuk mengurus tetek bengek kepindahan itu.”  “Itu memang benar. William memang
Julie Andrews’s Note (episode 1)

Post a Comment Blogger Disqus